“Kau Tak Perlu Mencintaiku”
Harapan. Mungkin hidupku akan terisi penuh oleh kata – kata berjenis seperti itu. Iya, berharap dan terus menggantungkan harapan.
Sampai detik ini, aku masih belum bisa melupakan bayangannya yang seolah terus saja menari – nari dalam pikiranku atau menghapus begitu banyak jejak yang sempat kami berdua lewati bersama.
Semua ini tak akan pernah terjadi jika dia tak memulainya, tidak akan ada asap jika tak ada api. Semua akan baik – baik saja jika dia tidak memulai permainan cinta yang dipenuhi dusta ini.
Untuk apa dia ada lalu tiada, untuk apa perhatian kemudian acuh tak acuh? Aku bukan sebuah boneka yang bisa dimainkan. Dia mencintainya tapi kenapa dia berlari kearahku? Untuk apa membuatku jatuh cinta untuk kemudian menjadikanku pengemis cinta?
Aku membenci sekaligus mencintainya-- Romi. Kedua rasa yang sudah jelas sangat berbeda itu sekarang malah menjadi perpaduan yang aneh di dalam hatiku.
Sungguh . . masih melekat kuat diingatanku bagaimana hangatnya dia sebelum berubah menjadi sedingin es seperti sekarang.
Dulu-- dimana ada aku dia juga ada di tempat yang sama tapi sekarang . .?
Waktu seolah membunuh rasa cinta yang sepertinya pernah ada dalam hatinya dan mengubahnya menjadi hal yang sepertinya tak sepenting dulu.
Bodoh! Bodoh! Oh! Aku memang sangat bodoh!
Dia sudah punya Erika dan aku juga sudah ada Dika. Tapi kenapa sulit sekali menghapus bayangan semunya yang masih tertinggal dalam pikiranku?
Apa yang sudah dia lakukan padaku?
Aku seperti seekor ulat yang mendambakan kupu – kupu cantik atau bagaikan punduk yang merindukan bulan. Dia masih terlalu sempurna untuk berdampingan dengan wanita biasa sepertiku dan dia masih terlalu tinggi untuk bisa tersentuh oleh tangan mungilku. Kita sangat dekat tapi kita tak pernah bisa bersatu.
Sudah ku usahakan untuk melupakannya dengan cara menghabiskan waktu dengan Dika, pria yang sangat mencintaiku dan menjadikanku ratu dalam hatinya. Tidak seperti Romi yang menjadikanku dayang yang selalu berada dibawah kendalinya.
Tapi apa yang kudapatkan? Hanya keputusasaan!
Keberadaannya yang begitu dekat dengaanku, selalu saja membuatku berusaha mencuri – curi pandang padanya.
Terlebih lagi belakangan ini dia mencoba memulai permainan baru denganku. Disaat tak ada Dika dan Erika dia juga sesekali memandangku secara diam – diam. Ah, tolong hentikan semua ini!
“Apa kabar, Ry?” tanya Romi disaat jam pelajaran kosong.
Aku berusaha mempertebal imanku dengan tak menggubris pertanyaan Romi tapi sialnya dia terus saja memanggil – manggil namaku.
“Ery! Eryna!” panggilnya terus.
“Apa, Rom?” imanku akhirnya runtuh.
“Minggu ini ada acara?” tanya Romi.
“Kosong, kayaknya!”
“Nggak pergi sama Dika?” tanya Romi kemudian.
“Lo juga nggak keluar sama Erika?” tanyaku balik. Setiap kata yang keluar dari mulutku tadi berusaha kutekan agar dia sedikit peka dengan maksudku.
“Belakangan ini lagi ada masalah!” curhatnya.
“Kalo pacaran nggak ada masalahnya sama kaya kita makan nasi nggak pakek lauk. Nggak enak!” seruku. Kenapa mesti curhat kesini coba? mau manes – manesin ceritanya? Oke gue lawan!
Tapi entah kenapa, cinta yang sudah jadi satu dengan benci perlahan memisahkan dirinya. Kali ini kadar cintanya nambah banyak, kemana perginya rasa benci itu? kemana? Seseorang tolong temukan perasaan itu!
Aku jadi dekat lagi dengan Romi meskipun sudah ada Dika. Meskipun awalnya coba kubatasi tapi makin kesini, aku makin dekat dengan Romi. Dan yang berbahaya adalah rasa cintaku padanya kian bertambah. Bagaimana ini?
Tanpa sepengetahuan pasangan masing – masing, kami berdua malah sering jalan berdua. Harapan yang awalnya kugantungkan pada Romi akhirnya terjawab. Kita dekat lagi seperti dulu, malah lebih dekat lagi dari yang dulu.
Belakangan ini, aku dengar dari teman – teman jika Romi mendekatiku hanya untuk memancing cemburu Erika, setelah mengajakku terbang ke langit ketujuh lalu dia menghempaskanku kebawah.
Aku hancur!
Jatuh kedalam lubang yang sama adalah suatu kebodohan. Aku akui aku sangat goblok dalam hal percintaan!
Disaat aku berusaha menjauh lagi, Romi malah makin gencar mengejarku. Tolong hentikan sandiwara ini!!
“Aku cinta kamu, Ry . .” ungkap Romi, suaranya terdengar bergetar.
Aku tersenyum sinis, “Untuk apa? untuk jadiin gue pengemis cinta kayak dulu?”
“Aku serius, Ry!” ia mempertegas ucapannya barusan.
“Kenapa pake sandiwara segala? Lo kira gue boneka lo? gue manusia, Rom! Gue tau gimana rasa sakit!”
“Ok! Gue akui, gue deketin lo lagi belakangan ini awalnya cuma mau buat Erika cemburu tapi setelah kita backstreet. Gue sadar, gue cinta sama lo!” tak terlihat kebohongan sedikitpun dimatanya. Tapi tekadku sudah bulat untuk melupakannya.
“Gue nggak butuh cinta kayak gitu! Lo nggak perlu mencintai gue cuma buat alasan nggak jelas kayak gitu! Selama ini gue terlau berfokus pada cinta semu kita yang berakhir sebelum pernah kita mulai, sampai – sampai gue nggak liat cinta Dika yang begitu besar dan tulus mencintai gue. Nggak kayak cinta loe itu!”
Aku segera pergi meninggalkan Romi dan menemui Dika yang sudah menungguku di depan sekolah.
Romi sepertinya sudah tenggelam dalam cintanya. Dia terlihat sangat rapuh. Biarkan saja! Agar dia tau gimana sakitnya aku selama ini.
Rasa cinta itu sudah mati dan berengkarnasi menjadi sepenuhnya rasa benci dan benci pada Romi.
****
Thanks For Reading :)
Kunjungi juga ceritaku yang lain di aplikasi Wattpad https://www.wattpad.com/user/AlyaLaksmi
Harapan. Mungkin hidupku akan terisi penuh oleh kata – kata berjenis seperti itu. Iya, berharap dan terus menggantungkan harapan.
Sampai detik ini, aku masih belum bisa melupakan bayangannya yang seolah terus saja menari – nari dalam pikiranku atau menghapus begitu banyak jejak yang sempat kami berdua lewati bersama.
Semua ini tak akan pernah terjadi jika dia tak memulainya, tidak akan ada asap jika tak ada api. Semua akan baik – baik saja jika dia tidak memulai permainan cinta yang dipenuhi dusta ini.
Untuk apa dia ada lalu tiada, untuk apa perhatian kemudian acuh tak acuh? Aku bukan sebuah boneka yang bisa dimainkan. Dia mencintainya tapi kenapa dia berlari kearahku? Untuk apa membuatku jatuh cinta untuk kemudian menjadikanku pengemis cinta?
Aku membenci sekaligus mencintainya-- Romi. Kedua rasa yang sudah jelas sangat berbeda itu sekarang malah menjadi perpaduan yang aneh di dalam hatiku.
Sungguh . . masih melekat kuat diingatanku bagaimana hangatnya dia sebelum berubah menjadi sedingin es seperti sekarang.
Dulu-- dimana ada aku dia juga ada di tempat yang sama tapi sekarang . .?
Waktu seolah membunuh rasa cinta yang sepertinya pernah ada dalam hatinya dan mengubahnya menjadi hal yang sepertinya tak sepenting dulu.
Bodoh! Bodoh! Oh! Aku memang sangat bodoh!
Dia sudah punya Erika dan aku juga sudah ada Dika. Tapi kenapa sulit sekali menghapus bayangan semunya yang masih tertinggal dalam pikiranku?
Apa yang sudah dia lakukan padaku?
Aku seperti seekor ulat yang mendambakan kupu – kupu cantik atau bagaikan punduk yang merindukan bulan. Dia masih terlalu sempurna untuk berdampingan dengan wanita biasa sepertiku dan dia masih terlalu tinggi untuk bisa tersentuh oleh tangan mungilku. Kita sangat dekat tapi kita tak pernah bisa bersatu.
Sudah ku usahakan untuk melupakannya dengan cara menghabiskan waktu dengan Dika, pria yang sangat mencintaiku dan menjadikanku ratu dalam hatinya. Tidak seperti Romi yang menjadikanku dayang yang selalu berada dibawah kendalinya.
Tapi apa yang kudapatkan? Hanya keputusasaan!
Keberadaannya yang begitu dekat dengaanku, selalu saja membuatku berusaha mencuri – curi pandang padanya.
Terlebih lagi belakangan ini dia mencoba memulai permainan baru denganku. Disaat tak ada Dika dan Erika dia juga sesekali memandangku secara diam – diam. Ah, tolong hentikan semua ini!
“Apa kabar, Ry?” tanya Romi disaat jam pelajaran kosong.
Aku berusaha mempertebal imanku dengan tak menggubris pertanyaan Romi tapi sialnya dia terus saja memanggil – manggil namaku.
“Ery! Eryna!” panggilnya terus.
“Apa, Rom?” imanku akhirnya runtuh.
“Minggu ini ada acara?” tanya Romi.
“Kosong, kayaknya!”
“Nggak pergi sama Dika?” tanya Romi kemudian.
“Lo juga nggak keluar sama Erika?” tanyaku balik. Setiap kata yang keluar dari mulutku tadi berusaha kutekan agar dia sedikit peka dengan maksudku.
“Belakangan ini lagi ada masalah!” curhatnya.
“Kalo pacaran nggak ada masalahnya sama kaya kita makan nasi nggak pakek lauk. Nggak enak!” seruku. Kenapa mesti curhat kesini coba? mau manes – manesin ceritanya? Oke gue lawan!
Tapi entah kenapa, cinta yang sudah jadi satu dengan benci perlahan memisahkan dirinya. Kali ini kadar cintanya nambah banyak, kemana perginya rasa benci itu? kemana? Seseorang tolong temukan perasaan itu!
Aku jadi dekat lagi dengan Romi meskipun sudah ada Dika. Meskipun awalnya coba kubatasi tapi makin kesini, aku makin dekat dengan Romi. Dan yang berbahaya adalah rasa cintaku padanya kian bertambah. Bagaimana ini?
Tanpa sepengetahuan pasangan masing – masing, kami berdua malah sering jalan berdua. Harapan yang awalnya kugantungkan pada Romi akhirnya terjawab. Kita dekat lagi seperti dulu, malah lebih dekat lagi dari yang dulu.
Belakangan ini, aku dengar dari teman – teman jika Romi mendekatiku hanya untuk memancing cemburu Erika, setelah mengajakku terbang ke langit ketujuh lalu dia menghempaskanku kebawah.
Aku hancur!
Jatuh kedalam lubang yang sama adalah suatu kebodohan. Aku akui aku sangat goblok dalam hal percintaan!
Disaat aku berusaha menjauh lagi, Romi malah makin gencar mengejarku. Tolong hentikan sandiwara ini!!
“Aku cinta kamu, Ry . .” ungkap Romi, suaranya terdengar bergetar.
Aku tersenyum sinis, “Untuk apa? untuk jadiin gue pengemis cinta kayak dulu?”
“Aku serius, Ry!” ia mempertegas ucapannya barusan.
“Kenapa pake sandiwara segala? Lo kira gue boneka lo? gue manusia, Rom! Gue tau gimana rasa sakit!”
“Ok! Gue akui, gue deketin lo lagi belakangan ini awalnya cuma mau buat Erika cemburu tapi setelah kita backstreet. Gue sadar, gue cinta sama lo!” tak terlihat kebohongan sedikitpun dimatanya. Tapi tekadku sudah bulat untuk melupakannya.
“Gue nggak butuh cinta kayak gitu! Lo nggak perlu mencintai gue cuma buat alasan nggak jelas kayak gitu! Selama ini gue terlau berfokus pada cinta semu kita yang berakhir sebelum pernah kita mulai, sampai – sampai gue nggak liat cinta Dika yang begitu besar dan tulus mencintai gue. Nggak kayak cinta loe itu!”
Aku segera pergi meninggalkan Romi dan menemui Dika yang sudah menungguku di depan sekolah.
Romi sepertinya sudah tenggelam dalam cintanya. Dia terlihat sangat rapuh. Biarkan saja! Agar dia tau gimana sakitnya aku selama ini.
Rasa cinta itu sudah mati dan berengkarnasi menjadi sepenuhnya rasa benci dan benci pada Romi.
****
Thanks For Reading :)
Kunjungi juga ceritaku yang lain di aplikasi Wattpad https://www.wattpad.com/user/AlyaLaksmi
Komentar
Posting Komentar