"Runaway"
Malam itu hujan. Aku ingat betul tubuhku menggigil dibawah guyuran butiran air yang terus jatuh membasahi bumi. Basah kuyup. Tapi aku masih menunggu.
Dia tak datang. Mungkin begitu. Aku akhirnya putus asa setelah menantinya hampir tiga jam lamanya. Dia mengingkari janjinya lagi. Mengulang – ulang kesalahannya lagi. Membuatku kecewa lagi. Dan bodohnya—aku masih saja menyayanginya.
Aku berjalan perlahan sembari menenteng higheels berwarna perak kepunyaanku, sesekali aku menoleh kearah taman kota tempatku menunggunya tadi masih saja berharap dia akan datang.
BODOH!
Air mataku meleleh menjadi satu bersama deraian hujan yang masih mengguyur bumi. Waktu begitu kejam! ia mengubah pria hangatku menjadi manusia salju yang sangat dingin. Bagaimana bisa semua ini terjadi? bagaimana bisa?!
Besok paginya—aku masih berusaha mencarinya ke seluruh sudut kampus. Tak perduli sekeras apapun aku berusaha mencarinya yang kudapat hanya jawaban yang sama. Aku tak berhasil menemukannya.
Kemana dia?
Sudah tiga bulan dia menghilang tanpa kabar. Ia hanya meninggalkan pesan untuk kita bertemu di taman itu, tapi sudah berkali – kali penantianku sia – sia karena ia tak datang.
Entah ini hanya kebetulan atau memang ini adalah bagian dari takdir indah Tuhan, aku melihatnya. Pria tinggi berambut gondrong sebahu itu keluar dari ruang rektor, kaki mungilku lepas kendali berlari kearahnya.
Tanpa basa basi terlebih dulu—aku langsung saja memeluknya yang masih terlihat kaget melihatku ada di hadapannya.
“Aku kangen. Aku kangen. Aku kangen. Sumpah, I miss you so much!!” teriakku kegirangan seolah melupakan semua rasa sakit yang telah ia berikan padaku.
Ia terlihat kurang nyaman kupeluk di depan umum seperti ini, dia sedikit memberontak sebelum melepaskan pelukanku sedikit kasar. Ia menatapku dengan guratan emosi di raut wajahnya sementara aku balik tersenyum menatapnya yang teramat sangat kurindukan.
“I miss you!” ucapku sembari tersenyum lagi.
“Kenapa lo bersikap seolah gak terjadi sesuatu?” tanya Vino setelah sekian detik hanya menatapku geram.
“Bukannya harusnya aku yang bilang itu? kenapa kamu gak dateng? kenapa kamu mengingkari janji yang kamu buat sendiri?” tanyaku.
“Anggap aja emang beneran gak terjadi sesuatu di sini. Mungkin lo bisa menganggap diantara kita juga gak pernah ada ikatan yang buat kita jadi satu – kesatuan. Lupain aja semua itu, hilangin aja semua kenangan itu dari ingatan lo. Karna gue rasa itu yang terbaik!” ucapnya sebelum berjalan melewatiku begitu saja.
“BERHENTI.” tahanku yang membuatnya menghentikan langkah kakinya. “Aku bakal lupain semuanya, tapi tolong—tolong jawab pertanyaan aku dengan jujur.” lanjutku menuju kehadapannya.
Aku mendongak menatap wajahnya yang berada beberapa centi diatasku, “Kenapa kamu berubah? kenapa kamu seolah – olah menghindari aku? kenapa bahasa kamu jadi berubah kasar? apa kamu bertemu wanita lain? apa kamu lupa jika aku adalah pacar kamu? aku perlu jawaban dari semua tanda tanya itu.”
“Nggak semua pertanyaan harus ada jawabannya, semuanya bisa aja berubah. Layaknya waktu yang gak akan pernah konsisten dengan dirinya sendiri, ia akan terus bergerak menuju detik satu ke detik yang lainnya. Sama kayak gue yang bisa pindah dari cewek satu ke cewek lainnya dan lo harus ngerti itu!” jawabnya sebelum akhirnya benar – benar pergi meninggalkanku.
Mataku masih terpaku melihatnya pergi, apa semuanya benar – benar telah berakhir? karena ada wanita lain?
“Dia bohong!” ujar seseorang. Aku menoleh kearah sumber suara. Seorang wanita berambut ombre sepinggang itu berjalan menuju kearahku. Entah siapa dia. Aku tak pernah bertemu dengan dia sebelumnya.
“Lo siapa?” tanyaku tertahan.
“Gue adik Vino. Dia bohong tentang ada cewek lain. Gue tau latar belakang Vino playboy dan terkenal jadi preman kampus di sini. Tapi bukannya itu masa lalu? apa semua orang harus men-judge dia berdasarkan sisi gelap dalam kehidupannya?”
“Maksudnya?”
“Dia—kak Vino selalu menepati janjinya untuk ketemu lo di taman. Bahkan kemarin, dia ada di sana, dia pingin ketemu sama lo. Tapi sayang. . penghalang hubungan kalian ada ditangan keluarga lo. Nyokap lo gak pernah setuju kan? karena kak Vino brandalan?”
Perlahan aku mulai memahami situasi ini. Aku akan tuntaskan semuanya. Malam ini juga!
Aku datang lagi ke taman kota. Menanti Vino lagi. Satu jam – dua jam berlalu. Ia memang tak menunjukkan batang hidungnya tapi aku merasakan kehadirannya. Aku berdiri dari posisi dudukku menatap pohon pinus yang berada beberapa meter dari tempatku.
“Aku tau kamu di sana! semuanya gak akan selesai kalau kamu terus lari. Jangan bohongi diri kamu sendiri, jangan khianati diri kamu sendiri. Aku udah tau semuanya, ini semuanya karna keluarga aku kan?” ujarku sedikit berteriak seolah memaksanya untuk berani menghadapi semuanya bersamaku.
Sosok pria yang kutunggu akhirnya muncul dari balik pohon itu, ia berlari kearahku. Layaknya adegan drama romantis di film – film, ia langsung menciumku menumpahkan kerinduan yang selama ini disembunyikannya.
“I miss you—really missing all about you!” ujarnya setelah melepaskan ciumannya.
Aku tersenyum, “Jadi bener itu alasannya? keluarga aku?”
Vino terdiam beberapa saat, ia menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaanku, “Iya, kamu tau kan gimana masa lalu aku? rokok, miras, bahkan hampir jatuh ke dunia gelap karena narkoba. Tapi semuanya berubah semenjak kamu ada. Aku nggak menyalahkan keluarga kamu karena nggak memberi restu hubungan kita, justru aku akan berusaha mati – matian untuk membuktikan bahwa aku pantas buat kamu.”
“Janji?” tanyaku.
Ia manggut yakin, “1001 janji, gak akan pernah aku ingkari!”
Aku menatapnya lekat ia juga sebaliknya, “Tolong berhenti menghindariku, berhenti pura – pura nggak perduli. Karena sekuat apapun kamu berusaha menutupinya, kamu gak akan bisa. Tolong berhenti berlari dari aku—karena hidup itu tentang sebuah perjalanan bukan pelarian.”
Mampir ke Wattpad di link berikut
https://www.wattpad.com/user/AlyaLaksmi
Malam itu hujan. Aku ingat betul tubuhku menggigil dibawah guyuran butiran air yang terus jatuh membasahi bumi. Basah kuyup. Tapi aku masih menunggu.
Dia tak datang. Mungkin begitu. Aku akhirnya putus asa setelah menantinya hampir tiga jam lamanya. Dia mengingkari janjinya lagi. Mengulang – ulang kesalahannya lagi. Membuatku kecewa lagi. Dan bodohnya—aku masih saja menyayanginya.
Aku berjalan perlahan sembari menenteng higheels berwarna perak kepunyaanku, sesekali aku menoleh kearah taman kota tempatku menunggunya tadi masih saja berharap dia akan datang.
BODOH!
Air mataku meleleh menjadi satu bersama deraian hujan yang masih mengguyur bumi. Waktu begitu kejam! ia mengubah pria hangatku menjadi manusia salju yang sangat dingin. Bagaimana bisa semua ini terjadi? bagaimana bisa?!
Besok paginya—aku masih berusaha mencarinya ke seluruh sudut kampus. Tak perduli sekeras apapun aku berusaha mencarinya yang kudapat hanya jawaban yang sama. Aku tak berhasil menemukannya.
Kemana dia?
Sudah tiga bulan dia menghilang tanpa kabar. Ia hanya meninggalkan pesan untuk kita bertemu di taman itu, tapi sudah berkali – kali penantianku sia – sia karena ia tak datang.
Entah ini hanya kebetulan atau memang ini adalah bagian dari takdir indah Tuhan, aku melihatnya. Pria tinggi berambut gondrong sebahu itu keluar dari ruang rektor, kaki mungilku lepas kendali berlari kearahnya.
Tanpa basa basi terlebih dulu—aku langsung saja memeluknya yang masih terlihat kaget melihatku ada di hadapannya.
“Aku kangen. Aku kangen. Aku kangen. Sumpah, I miss you so much!!” teriakku kegirangan seolah melupakan semua rasa sakit yang telah ia berikan padaku.
Ia terlihat kurang nyaman kupeluk di depan umum seperti ini, dia sedikit memberontak sebelum melepaskan pelukanku sedikit kasar. Ia menatapku dengan guratan emosi di raut wajahnya sementara aku balik tersenyum menatapnya yang teramat sangat kurindukan.
“I miss you!” ucapku sembari tersenyum lagi.
“Kenapa lo bersikap seolah gak terjadi sesuatu?” tanya Vino setelah sekian detik hanya menatapku geram.
“Bukannya harusnya aku yang bilang itu? kenapa kamu gak dateng? kenapa kamu mengingkari janji yang kamu buat sendiri?” tanyaku.
“Anggap aja emang beneran gak terjadi sesuatu di sini. Mungkin lo bisa menganggap diantara kita juga gak pernah ada ikatan yang buat kita jadi satu – kesatuan. Lupain aja semua itu, hilangin aja semua kenangan itu dari ingatan lo. Karna gue rasa itu yang terbaik!” ucapnya sebelum berjalan melewatiku begitu saja.
“BERHENTI.” tahanku yang membuatnya menghentikan langkah kakinya. “Aku bakal lupain semuanya, tapi tolong—tolong jawab pertanyaan aku dengan jujur.” lanjutku menuju kehadapannya.
Aku mendongak menatap wajahnya yang berada beberapa centi diatasku, “Kenapa kamu berubah? kenapa kamu seolah – olah menghindari aku? kenapa bahasa kamu jadi berubah kasar? apa kamu bertemu wanita lain? apa kamu lupa jika aku adalah pacar kamu? aku perlu jawaban dari semua tanda tanya itu.”
“Nggak semua pertanyaan harus ada jawabannya, semuanya bisa aja berubah. Layaknya waktu yang gak akan pernah konsisten dengan dirinya sendiri, ia akan terus bergerak menuju detik satu ke detik yang lainnya. Sama kayak gue yang bisa pindah dari cewek satu ke cewek lainnya dan lo harus ngerti itu!” jawabnya sebelum akhirnya benar – benar pergi meninggalkanku.
Mataku masih terpaku melihatnya pergi, apa semuanya benar – benar telah berakhir? karena ada wanita lain?
“Dia bohong!” ujar seseorang. Aku menoleh kearah sumber suara. Seorang wanita berambut ombre sepinggang itu berjalan menuju kearahku. Entah siapa dia. Aku tak pernah bertemu dengan dia sebelumnya.
“Lo siapa?” tanyaku tertahan.
“Gue adik Vino. Dia bohong tentang ada cewek lain. Gue tau latar belakang Vino playboy dan terkenal jadi preman kampus di sini. Tapi bukannya itu masa lalu? apa semua orang harus men-judge dia berdasarkan sisi gelap dalam kehidupannya?”
“Maksudnya?”
“Dia—kak Vino selalu menepati janjinya untuk ketemu lo di taman. Bahkan kemarin, dia ada di sana, dia pingin ketemu sama lo. Tapi sayang. . penghalang hubungan kalian ada ditangan keluarga lo. Nyokap lo gak pernah setuju kan? karena kak Vino brandalan?”
Perlahan aku mulai memahami situasi ini. Aku akan tuntaskan semuanya. Malam ini juga!
Aku datang lagi ke taman kota. Menanti Vino lagi. Satu jam – dua jam berlalu. Ia memang tak menunjukkan batang hidungnya tapi aku merasakan kehadirannya. Aku berdiri dari posisi dudukku menatap pohon pinus yang berada beberapa meter dari tempatku.
“Aku tau kamu di sana! semuanya gak akan selesai kalau kamu terus lari. Jangan bohongi diri kamu sendiri, jangan khianati diri kamu sendiri. Aku udah tau semuanya, ini semuanya karna keluarga aku kan?” ujarku sedikit berteriak seolah memaksanya untuk berani menghadapi semuanya bersamaku.
Sosok pria yang kutunggu akhirnya muncul dari balik pohon itu, ia berlari kearahku. Layaknya adegan drama romantis di film – film, ia langsung menciumku menumpahkan kerinduan yang selama ini disembunyikannya.
“I miss you—really missing all about you!” ujarnya setelah melepaskan ciumannya.
Aku tersenyum, “Jadi bener itu alasannya? keluarga aku?”
Vino terdiam beberapa saat, ia menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaanku, “Iya, kamu tau kan gimana masa lalu aku? rokok, miras, bahkan hampir jatuh ke dunia gelap karena narkoba. Tapi semuanya berubah semenjak kamu ada. Aku nggak menyalahkan keluarga kamu karena nggak memberi restu hubungan kita, justru aku akan berusaha mati – matian untuk membuktikan bahwa aku pantas buat kamu.”
“Janji?” tanyaku.
Ia manggut yakin, “1001 janji, gak akan pernah aku ingkari!”
Aku menatapnya lekat ia juga sebaliknya, “Tolong berhenti menghindariku, berhenti pura – pura nggak perduli. Karena sekuat apapun kamu berusaha menutupinya, kamu gak akan bisa. Tolong berhenti berlari dari aku—karena hidup itu tentang sebuah perjalanan bukan pelarian.”
Mampir ke Wattpad di link berikut
https://www.wattpad.com/user/AlyaLaksmi
Komentar
Posting Komentar